
"Ayah, sepi itu seperti apa?" aku menoleh ke gundukan haru warna jiwa Ayah. Ayah diam. "Ayah kau membuatku setegar ini, tapi mengapa sepi selalu menyerangku jika ku melihat warnamu Ayah" diam tetap menjadi watak Ayah. gundukan warna yang kini mulai tampak meluas, membuatku bungkam.. jiwaku meremuk, hati pilu dan sakit. Ayah tak kunjung berbicara, betapa kerinduan ini tercekat dalam tanya tanpa terjawab!!! Aku kecewa, cukup kecewa....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar