Selang beberapa waktu akan nilai pisah karena tidak jadinya menikah dengan ikhwah di daerah Bogor, selang itu pula tangis selalu berubah. Terkadang senyum, terkadang bingung mengiringi tangis tapi, sungguh buat dada ini bertambah beriman kepada Allah ‘azza wa jalla karena setiap kejadian baik kecil selalu ada hikmahnya.. bagi orang-orang yang berfikir. Intinya setiap yang datang pasti ada masanya untuk pergi atau setiap yang pergi dalam kurun waktu pasti akan kembali.
Selanjutnya, masalah ikwah di Bogor itu aku pilih tak memikirkannya lagi meski masih ada amanah yang mesti aku tunaikan dengannya, aku pilih “cut” berkomunikasi dengannya, aku pilih ngejauh dan lupakan masalalu. Agar hati ini mampu bersinar kembali dan tidak terkotori. Beliau mengizinkan aku mengenal istrinya lebih dekat, ikhwah Bogor ini sudah menemukan jodohnya.. namun, aku dan Allah yang lebih tahu tentang keadaan hatiku ini.. silahturrahmi akan tetap berlanjut lewat do’a persaudaraan.
Aku mulai berdialog dengan Allah selain lewat ibadah wajib dan sunat selaku muslim, akupun berdialog lewat karya-karya para penulis Islam yang ber’izzah dan lewat artikel para muslim/muslimah yang mampu menjaga hatinya.. hingga sedih ini berubah menjadi kesedihan yang membawa hikmah.. aku pun menemukan arti cinta yang sebenarnya, aku mulai tahu bahwa mengatakan “aku mencintaimu karena Allah” kesembarang orang apalagi yang bukan mahramnya akan berakibat fatal.. karena jika kita mengatakan kata tersebut bearti kita sudah mengetahui kualitas iman dan ibadahnya kepada Allah jika belum itu bearti bisa mengarah kebohongan atau lampiasan nafsu belaka.. begitupun mengucapkan kata benci “aku membencimu karena Allah” padahal kita tidak tahu tentang dibalik kejelekannya yang justru nilai Ibadahnya lebih hebat dari apa yang kita kirakan, karena manusia bersikap khilaf bisa dikategorikan wajar melakukan kesalahan. Orang-orang munafiklah yang kita bisa ucapkan kata benci seperti itu dan orang-orang kafir yang zalim. Jangan melampiaskan nafsu belaka, membenci tapi, kita harus mampu memanusiakan manusia juga.
Namun, ujian tetaplah ujian karena semakin tinggi kualitas iman seseorang maka ujiannya lebih ” mengasyikan” lebih dahsyat dan tidak mengurangi nilai kemampuan diri kita. Jadi, tak usah takut dan menghindar dari ujian hadapi dan nikmati saja. sebelum tangis ku hilang tentang kisah gagalnya aku nikah dengan orang Bogor itu, banyak yang coba hibur hati ini.. tapi yang buatku sedih adalah ketika seorang ikhwah yang menghibur hati ini, yang ternyata diam-diam dia sudah lama menyimpan rasa kepada aku, akupun tahu itu. Dan sungguh, sedih itu mampu membuat kita lupa juga, lantaran yang sedih itu aku coba buka hati ini untuk menerima rasa yang dia pendam begitu lama.. sungguh hatiku pun simpati lantaran perubahannya dalam bersikap.. tidak seperti pertama ku kenal, bisa jadi dalam memendam rasanya yang lama terhadapku beliau menempa diri dengan hikmah-hikmah yang dia lewati.. sungguh dalam sedih aku mengaguminya dan hati ini bertambah luka dan tangis..
Ikhwah itu jadi sering menunjukkan kehadirannya, aku mencoba belajar untuk mencintainya. Tapi, hati ini sungguh sakit dan sedih.. aku tidak bisa melakukan apa yang orang lain lakukan”pacaran” ahh… hati berteriak, bukankah setahun yang lalu aku menjadi pemateri “virus merah jambu” yang justru aku menekankan untuk tidak mencintai seseorang sebelum dia halal untuk di nikahi,, sampai untuk menjawab atau mengobrol via telepon pun aku tekankan jangan, sampai tentang ber-sms ria antara ikhwah dan akhwat yang hanya coba ingatkan hal tentang ibadah saja aku tekankan JANGAN!.. ohh tidak hatiku sungguh terluka.. akupun berkoar tidak ada yang namanya “pacaran islami” sampai jantung ini menghentak untuk mengingatkan mereka para remaja SMA itu.. memang sudah setahun yang lalu, tapi apa yang aku katakan pada mereka justru yang mencambukku untuk tidak melakukan apa yang sudah aku tumpahkan sendiri, dan alhamdullilah Allah mengingatkan materi yang ku ajarkan itu, meski sudah setahun lamanya.
Hingga tiba Allah menunjukan kebesaranNya. Hubungan yang melukai hatiku ini baru di mulai tanggal 28 April 2010.. tak ada yang menjerumuskanku dengan ikhwah itu dalam berhubungan karena dia datang kerumah, duduk seperti biasa dengan berjarak, akupun tak memberinya air minum, akupun berjuang jaga pandangan.. sayangnya hati ini jujur tak mampu jaga pandangan, bukankah yang terpenting hati yang dijaga. Sampai tiba waktunya, tepat tanggal 04 Mei 2010 selasa sore ikhwah itu datang dan mengatakan ”Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini kedepannya, Novel pasti akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari diri saya, cita-cita Novel tinggi (menikah) sedang saya hanya mampu beri janji kurun waktu 4 tahun, kurang lebih hal ini justru buat Novel terzalimi, kita akhiri saja.” aku diam. Sakit? Tidak, aku senang dan aku menangis. Menangis senang. Sifat jahilku keluar, aku malah beri dia pernyataan ”Bukankah kita baru mulai.” Dia terus menekankan bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan, memang dia tidak menekankan karena faktor agama.Dia pun bilang kita tidak akan bertemu lagi. Aku pilih diam, dia pun pergi.
Aku berlari keruang pribadiku, kamar. Aku berdo’a
“Terimakasih yaa.. Rabb, karena Engkau telah menyelamatkanku.. dari kezaliman diriku sendiri.. ampuni aku atas kezaliman hati ini.. terimakasih yaa.. Rabb atas penjagaan-Mu terhadapku.”
Cinta..
Ahh..
Kupertahankan kesucian hatiku kepadanya untuk mempertahankan Cintaku kepada-Mu( diambil dari artikel muslim yang mampu jaga hatinya)
“Allah ampuni aku, aku mencintai-Mu dan Rasul-Mu, Muhammad SAW melebihi lainnya..”
Dalam diam 04 Mei 2010 ba’da magrib ikwah itu datang lagi, menawarkan rasa itu kembali, menanyakan tentang hatiku lagi.. aku tersenyum “Akhi kau masih bimbang dalam pilihanmu sendiri, secepat itukah kau lupa akan kata-kata sore tadi, sungguh syetan sedang bermain-main dihatimu..” hatiku berbicara.. dia terus bertanya tentang hatiku.. aku diam dan mengatakan..”aku menyanyangimu karena Allah” aku tahu ini bohong karena aku sendiri tidak mengenalnya terlalu jauh tentang seberapa kualitas ibadahnya, aku berbohong.. dia pun pergi, dari lubuk hati aku mengatakan, akhi.. aku tidak lagi mencintaimu karena kau bukan mahramku, kita tidak akan pernah bertemu lagi. ,Aku tidak bisa mempermainkan taubatku. Sore itu adalah taubatku dalam hal mencintai lawan jenis, hingga kedepannya aku tidak akan mencintai seseorang yang bukan mahramku sampai aku tahu kualitas agamanya sampai aku halal untuk menyentuhnya. Dan aku harus kembali menoleh untuk amalan materi yang aku ajarkan setahun lalu! JANGAN, tak ada namanya pacaran islami..
Wallahua’lam.
Bernafas yang indah bersama awan Bernafas yang mewah bersama telaga Awan senja dan telaga surga Aku harus kuat, meski apa yang ku tunggu dan harapkan belum jua Tampak kesenangannya… aku harus tegar untuk menemukan sesuatu yang hilang karena penantian yang lama.. tak ada lelah dan sepi lagi, tak akan ada tangis sepi lagi dan tak akan ada kemanjaan yang merumitkan jiwa… Kekasih ku tunggu kau dalam bening mata cahaya-Nya… Di tepian hijau ini diantara telaga dan awan yang menaunginya… Kekasih aku setia untukmu… kujaga rasa setiamu dalam menjemputku… Dan disini aku menunggumu, dalam balutan cinta Allah 'Azza wa jalla… InsyaAllah… :-)
Semoga bermanfaat
al-Faqir ilallah, Novelia Yusuf.
Semoga Allah melimpahkan rasa kasih dan sayangNYA kepada hamba2x pilihan.
BalasHapusDiciptakan laki2x dan perempuan memang bertujuan untuk bertemu "li taraofu" tentunya dengan kaidah2x yang sedah detetapkan/ diajarkan rosulNYA. Laki2x berhak memilih, perempuan berhak menolak merupakan salah satu bentuk keadilan dalam Islam . Manusia boleh berharap dan harus berharap untuk bertemu pasangannya namun ketentuan Allah jualah yang berlaku. Disini kita dituntut berjiwa besar, berjiwa ksatria yang senatiasa mengagungkanNYA, berprasangka baik (khuznu dzon) kepada Allah dan harus kita yakini itu. Yang tebaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, tapi pilihan Allah insya Allah yang terbaik untuk kita (jika kita seorang hamba yang soleh tentunya). untuk itu jadikanlah pengalaman berharga ini sebagai bentuk pendewasaan mental dari Allah kepada ukhti, apalagi ukhti pernah membina masalah seperti ini, apa tadi judulnya? virus merah jambu, saya baru dengan sekarang. Sebenarnya apa yang ukhti sampaikan saat memberi materi itu semua sudah baik, tapi Allah ingin ukhti lebih baik lagi dengan menguji sebuah cobaan, dan akhirnya ukhti sanggup juga menerima ujian tsb walaupun terasa berat.
Memang inilah rahasia Allah yang ingin hambaNYA lebih baik dari yang sudah baik. Namun sekali kali jangan berbalik, Allah akan murka "kaburo maktan indallahi antakulu ma la ta'lamun" . Insya Allah jika ukhti mampu menjaga kesholihatan ukhti maka Allah akan mempertemukan ukhti dengan teman hidup yang sholeh, yang mampu membimbing ukhti, yang mampu menjadi pemimpin keluarga ukhti, yang mampu menjadi tauladan bagi putra-putri ukhti kelak . dan semoga ukhti sanggup menjadi pendamping "mujahid" dan siap melahirkan generasi2x Robbani yang siap menjawan tantangan masa depan demi kejayaan Islam .
"cinta ada jika kita sudah menikah "itu kalo gak salah kata-kata yang saya ingat dari penceramah2x. semoga ini bisa menghibur dan membesarkan hati ukhti......
Assalamu'alaikum, afwan baru bales.. Tapi, saya senag sekali ats do'a2nya.. Terimakasih yaa.. Syukran katsiran aja yg bisa sy ucapkan..
Hapus