
Sisi ilmu dari film PERFECT STRANGER
Bismillahhirrahmanirrahim
Perfect Stranger (Penuh dengan orang asing), di bintangi oleh artis kawakan A.S Jennifer Lopez. Film yang buat penulis menjadi bagian itu. Melebihi ceritaDektektif Conan, Psikopat, Psikologi, semua tercakup dalam multi idea. Film yang mengenalkan tentang efek kejahatan orang terdekat di masa anak-anak, manusia asing di diri sendiri. Ilike id. Penulis terkesan dengan film ini. Jujur, kenyataannya memang di dunia ini penuh dengan orang asing, lebih tepatnya menutup rahasia kejahatan yang hebat, hal itu bagi penulis disebut dengan munafik. Mari kita bawa pada kehidupan Islam, Islam agama yang lurus lalu kenapa agama yang lurus di cap teroris, karena ada satu orang yang mengedepankan kekerasan di balik umat yang lembut ini. Pesantren adalah tempat yang lurus lalu kenapa mereka di cap sebagai wadah pelarian, penahan nafsu, karena di dalamnya terdapat satu orang yang amoral dan hipersek yang baru belajar menjadi baik, namun setelah keluar dia “on line” mengumbar nafsu. Jangan salahkan Islam atau pesantrennya justru lihat satu diantara kemunafikan itu. Perfect stranger memperlihatkan hal tersebut, penuh dengan orang asing. Tapi, jangan sampai Anda bagian dari keterasingan itu.
Munafik berawal dari pengkhianatan-pengkhianatan kecil. Seperti kita dilarang berbohong, lalu kita melakukannya berawal dengan doyan ngeles akhirnya terbiasa jadilah pembohong besar. Kita dilarang mencuri, lalu kita melakukannya berawal dari yang kecil seperti mengambil uang Rp.100,00 milik Ibu akhirnya terbiasa, karena tak di tegur mulai ambil yang bernilai besar sampai hak orang lain pun dijarah. Islam melarang kita berpacaran, berdua-duaan dengan lawan jenis ynag bukan mahram. Kita mulai mengkhianati dari yang kecil-kecil. Sms orang yang kita suka, bertelpon mesra, awal kenalan berdalih ta’aruf lama kelamaan karena dalam jiwa sering melakukan khianat kecil mesti tak bertemu, berbicara apa saja, sampai akhirnya ada pelecehan seksual via sms atau telpon ( Berdasar observasi penulis, pelakunya 35% yang berlatar belakang dididik/tinggal di pesantren dan 40% yang mengaku beragama Islam/alim) “orang yang mengaku punya agama, hmm.. belum tentu bermoral.” Yang perlu di perjelas, pengkhianat itu belum tentu munafik, tapi munafik pasti pengkhianat. Pengkhianatan itu berhubungan antara manusia dengan manusia, sedangkan munafik itu berhubungan antara manusia dengan Sang-Pencipta, Allah SWT.
Penulis mencap perilaku tersebut merupakan penyakit kemunafikan dan wajar jika Sabili edisi No.23 TH.IX 16 Mei 2002/3 RABIUL AWAL 1423 lebih mengatakan hal-hal yang berkaitan kejadian-kejadian seperti hasil observasi diatas sebagai PEMBUSUKAN. Penulis akan menjabarkan isi bagian dari Tafakur Sabili ini tanpa ada proses pengeditan { Di Surabaya, seorang cucu yang kebingungan akibat hamil di luar nikah nekat membunuh nenek yang memeliharanya sejak kecil, hanya karena ia butuh uang menggugurkan kandungannya. Di Padang, seorang pemuda menghabisi saudara tirinya, hanya karena kesal perintahnya untuk menanakan nasi ditampik.
Sebuah paradoks besar terpampang dihadapan kita. Sebuah pertanyaan menyelinap. Benarkah penduduk negeri ini ramah dan relijius? Jika ya, lalu mengapa peristiwa-peristiwa tragis dan memalukan terjadi. Orang tua menggagahi anaknya, guru mencabuli muridnya, serta lusinan kisah memilukan lainnya. Ini benar-benar terjadi di sini. Di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tapi selama bertahun-tahun lamanya materi dan para thagut di berhalakan.
Maka, mungkin benar apa yang diungkapkan Taufik Ismail dalam puisi-puisinya. Perlahan tapi pasti, niscaya negeri ini sedang merayapkan status dirinya sendiri, dari negeri kutukan menjadi negeri azab. Ya, bagaimana bukan negeri kutukan, jika rasa aman kini nyaris seperti jarum yang menelisip ke onggokan jerami dan begitu susah dicari. Ketika darah mudah sekali tumpah. Ketika nyawa teramat gampang melayang tanpa pernah tahu sebabnya. Bagaimana kita tidak tinggal negeri azab, jika rasa malu telah lenyap, dan budaya serba boleh telah menjadi mata uang yang dibawa orang ke mana saja.
Ya, inilah negeri penuh fitnah yang semakin mengeksistensikan kegelapan sebagai jubah dirinya. Ketika orang yang masih menyisakan nurani dalam rongga dadanya merasa seperti sedang berjalan di atas bentangan beling dan paku. Ketika”orang-orang baik” tidak benar-benar mampu menjamin dirinya, apakah ia mampu benar-benar beriman di siang harinya dan tetap mempertahankan keimanan sampai malam datang menggelar tirai pekatnya.
Maka, beginilah keadaannya, jika manusia merasa lebih perkasa dari Tuhan yang menciptakannya: gelap. Dan kegelapan ini, akan semakin berlapis ketika orang-orang baik kehilangan kepekaannya. Jika mereka ikut-ikutan menyimak semua peristiwa tragis dan memilukan itu tidak untuk ditangisi, tapi sekedar celotehan di warung kopi dan dongeng pengantar tidur.
Padahal, jika bukan karena doa orang-orang ikhlas__yang mungkin masih ada dan terselip di balik semua stigma jahat negeri ini; bukan karena doa tulus para khatib di surau dan langgar-langgar di pelosok terpencil; niscaya, sudah jauh-jauh hari negeri ini diluluhlantakkan Allah SWT. Di tenggelamkan dan hilang riwayatnya dari peta bumi(QS al-Anfal:33)
Di antara kepenatan dan kepekatan itu mudah-mudahan masih terselip doa, tetaplah istiqamah selalu wahai orang-orang baik. Orang-orang yang terus berjuang menjaga kesucian diri, keluarga, bangsa, dan tanah air menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Karena sesungguhnya kita tetap mulia selama menggenggam iman(QS Ali ‘Imran:139). Sesulit dan seburuk apapun keadaannya, jangan pernah menyerah dan berputus asa dalam menegakkan panji dakwah, dan beramar ma’ruf nahi munkar. M Adnan Firdaus.}
Islam agama yang lurus , jangan salahkan agama itu, tapi lihat orang yang memakainya, di lihat dari sisi masa lalunya, hidupnya, tindakanya karena setiap orang memiliki kerahasiaan dalam tubuhnya dan ilmu penulis menjabarkan, hal tersebut tak perlu di tanyakan… cukup kau lihat apa yang dilakukan dan perilaku apa yang sering melekat di dirinya serta pembicaraan yang di ucapkan. Kau akan tahu rahasia jiwanya, karena apa yang dilakukan seseorang sekarang adalah efek dari apa yang dilakukan di masa lalu. Namun, saudaraku perbaiki diri sebelum menilai atau mencap karena hal itu akan menyulitkanmu.Berhati-hatilah, karena di dunia ini penuh dengan orang asing. jangan sampai kau diantaranya. Sehebat apapun kau menilai atau berdektetif, maka kau akan siap-siap dimalukan oleh film ini(Perfect Stranger, red) penulis bisa jamin, “kau tak ubahnya, pecundang.” Intinya kesombongan menilai tak ada disini, siap-siap kau dipermalukan. Sehebat apapun “Kau” dalam ilmu Psikologi bukan bakat menilai tapi memahami, memahami perilaku manusia. Kau tahu saudaraku, kusarankan tontonlah PERFECT STRANGER. Dan jadilah manusia seutuhnya, Muslim/mah sejati. Bukan perkara main-main, karena Munafik adalah musuh yang mematikan, musuh pembunuh karakter yang akut dan munafik merupakan “neraka” yang abadi di dunia dan akhirat. Jadilah muslim/mah yang seutuhnya, jangan bermain-main. Good Job, My Styles. Novelia Novel.
alhamdulillah
Semoga bermanfaat,
al-faqirillallah, Novelia Novel
(Zakat ilmu adalah mengamalkannya).
18 juli 2010, Sawahlunto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar