
Pengalaman Spritual untuk jiwa yang sempat MATI
Bismillahirrahmanirrahim
Sijunjung, 15 Agustus 2010. 04.32 AM. Telah bepulang kerahmatullah seorang Nenek di depan Posko KKN Tanjung Bonai Aur, Koto Gadang. Mata yang masih menyipit lantaran melatih untuk kembali berpuasa Ramadhan, seperti biasa sahur adalah hal yang buat ku bangkit manja lagi di dekat orang2 sahur. Pura-pura ngantuk, males melek dan males makan banyak. Mereka tersenyum heran, maklum di usia yang menanjak 24 tahun dan berpenampilan seorang muslimah ternyata masih menyimpan sifat kekanak-kanakan manja dan cengeng. Aneh. Dalam hening nikmati sahur di negeri orang, di desa yang penuh kedamaian dan di detik-detik imsak tergopoh dua orang wanita menyebutkan kalau Nenek dalam keadaan susah. Aku hanya melihat wajah mereka dengan tenang dan bertanya “Sesak lagi nafasnya ya Uni?” wanita itu menganggukkan kepala pertanda benar pernyataanku. Ibu dan bapak yang punya rumah di tempat kami para KKN tinggal menyuruh penulis menjenguknya dan ketika itu anak KKN yang sahurnya telat adalah aku (Penulis) yang menemaniku ibu, bapak pemilik rumah. Teman-teman KKN sudah pada tidur lagi sambil menunggu sholat shubuh. Aku tak mengajak mereka menjenguk nenek yang berada di posisi sekarat. Aku pergi bersama ibu.
Sebelumnya aku akan menceritakan sedikit perkenalan dengan Nenek di depan posko kami itu. Waktu awal-awal kami baru di rumah posko KKN, aku selesai menjemur pakaianku di jemuran. Ada nenek yang berjalan lambat duduk di depan pintu rumah posko kami, aku tersenyum dan menanyakan kabarnya. Nenek itu menunduk saja malah balik bertanya”lai sanang nak di siko? Siko aiah yo jauah nak” aku menimpali dengan canda dan nenek tersenyum pendek. Aku sedih melihatnya, tubuhnya keriput menua aku terpikir masa tuaku nanti, linangan air di mataku bermain-main. Seiring canda itu aku pun berlalu melupakan nenek tua itu. Seminggu sudah ku lewati di tempat KKN. Nenek jatuh sakit, nafasnya sesak. Ternyata nenek adalah wanita perokok aktif semenjak belia, ahh. Aku datang menjenguk di malam hari, beliau masih susah bernafas dalam keadaan seperti itu pun dia masih sempat menanyakan rokoknya, aku senyum mencandainya “yah nek, percuma aja berobat kalau masih doyan merokok..udahlah nek berhentiin aja ngerokoknya ganti ama cappuccino” orang yang di rumah nenek pada tertawa kecuali nenek, nenek tidak tahu apa cappuccino. Kalau nenek maniak dengan rokok maka aku adalah sang penggila cappuccino, sulit bernafas jika tak meminumnya sehari saja.
Selanjutnya waktu beriringan pergi bersama kegelisahan nenek, nenek belum sembuh juga. Aku berniat pulang kampung di awal puasa, puasa bareng mama. Dalam berniat, Allah memudahkan rencanaku. Aku pergi pulang kampung sekalian menjenguk nenek di rumah sakit Sawahlunto. Malam menyelimuti pandangan mataku, dingin ikut menyapa ku. Hal yang tak biasa mulai ku renungi…
Sesampai di tempat nenek yang telah sekarat itu aku diam, karena orang di sekitar menangis di samping nenek. Entah daya apa yang merasukiku, aku mulai mendekati sang nenek yang sebelumnya sudah sering kulakukan untuk begitu dengan membacakan kalimah-kalimah Allah di pendengarannya, namun kini tidak lagi aku justru melihat matanya, bagiku letak jiwa seseorang bisa terlihat dmatanya, letak mati dan hidup manusia pun bisa terlihat dimatanya. Aku mulai periksa matanya. Mata nenek di bulatan pupilnya memutih, dalam hati aku berdetak nenek sudah tak bernyawa lagi, meninggal dunia.. Aku masih memastikan terus mata nenek tanpa di sadari ada sepasang mata yang memmperhatikanku, Bapak tua yang menjadi gharin masjid itu berkata “gimana nak, nenek masih ada atau tidak?” sontak aku kaget, semua orang memandangku jika sembarang bicara bisa berabe aku, dengan membaca bismillah aku jawab”nenek sudah ga ada lagi” di barengi anggukan kecilku.. innalillahi wa inna ilahi raji’un, shubuh pun tiba, yang biasanya aku lebih banyak sholat di Posko sekarang aku pergi ke masjid, dalam perjalanan aku menangis, seandainya mereka tahu bahwa aku bukan seorang Dokter dan betapa banyaknya dosa aku mereka tak akan mau bertanya hal mati atau hidupnya nenek itu.. ahh sedih hati ku, Allah memberi aku pencerahan lewat nenek yang meninggal dan sikap orang-orang sekitar terhadap ku.. inilah pengalaman spiritual yang mampu buat ku tersadar untuk slalu berbuat baik dan sabar… siangnya aku pun ikut memandikan mayat nenek, entah daya apa lagi sehingga aku berani memandikan orang sudah mati, padahal aku penakutnya bukan main.. aku tersenyum sedih.. kekuatanku memandikan nenek ternyata karena aku membayangi, sekiranya itu adalah aku, aku yang terbujur kaku yang tidak bisa mandi sendiri lagi.. ahh Allah terimakasih kau tetap mencintaiku dan sayang padaku, meski tumpukan dosa dan kemaksiatan tlah menumpuk di kalbu.. bagiku mati hati lebih bahaya ketimbang jasad yang tak bernyawa.. Allah slalu membantuku untuk slalu menghidupkan hatiku yang mungkin mulai tampak meredup. Oya habis memandikan nenek aku dikasih handuk, katanya itu dah tradisi, hahay.. kalau aku pun dah memandikan diri dengan taubat, Allah SWT pasti memberikan” handuk” padaku yang nyaman
alhamdulillah
Semoga bermanfaat,
al-faqirillallah, Novelia Yusuf asy-Syahidah
(Zakat ilmu adalah mengamalkannya)
04 Januari 2011, Padang.
Apapun itu, semua yang terjadi berada diatas kehendak Allah SWT dan sesuai janji Allah SWT.. ayo, NoveL kamu kudu SEMANGATTT!! jangan lelah lagi ya.. ingat "yang tak pernah kalah.. kecuali oleh KEMATIAN!"
BalasHapus