

Aku menanti hujan siang dan malam. Betapa rindu itu mengukuhkan semangatku. Tapi hujan tak menampakan jati dirinya. Aku tak perlu jauh-jauh untuk pergi ke Mesir. Disini cukup melahirkan semangat juang dalam berkarya. Aku masih menanti hujan. Agar aku bisa melepas sepiku bersamanya. Kota ini begitu panas bukan main-main, aku mulai tampak menderita. Energiku terkuras dan lulai. Aku dehidrasi, kekurangan air.
Hujan temani aku disini, bisakah kau lihat rindunya aku padamu. Aku menyukaimu karena kedinginan sifatmu kadang membeku tak menentu namun kau mencairkan suasana hatiku. Aku selalu menantimu. Bisakah kau hadir hujan? Datanglah aku ingin melihatmu di jendela hijau ini dan berlari-lari kecil dan mengibaskan kedua tanganmu di ramai tawa airmu. Hujan kapan kau datang? Beri tanda jika kau datang, jangan dengan petirmu. Datanglah bersama awan mendungmu. Hujan aku menantimu.
Puitis, al-Faqir ilallah, Novelia Yusuf asy-Syahidah
(08 Mei 2009 jam 18:04)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar