


Seni bela diri Untuk Pertahanan Diri
SENI BELA DIRI
Seni bela diri merupakan satu kesenian yang ada atau timbul pada diri seseorang untuk mempertahankan diri. Seni bela diri telah lama ada dan pada mulanya berkembang dan di gunakan di medan pertempuran. Namun kemudian secara perlahan-lahan berubah dan menjadi kebutuhan setiap pribadi untuk mempertahankan diri.Hal ini terjadi ketika peperangan telah berkurang dan penggunaan senjata modern mulai lebih banyak di gunakan
Boleh dikatakan seni bela terdapat di dunia dan hampir setiap negara mempunyai seni bela diri yang berkembang sesuai dengan daerahnya masing-masing ,atau berubah akibat terjadinya interaksi dengan seni beladiri dari luar.. Sebagai contoh seni bela diri silat,seni bela diri yang berkembang di negara ASEAN dan terdapat di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei.
Bagaimanapun kemudahan transportasi dan komunikasi yang ada pada saat ini memudahkan perkembangan ide dan seni bela diri yang tidak lagi hanya ada di daerahnya saja ,tapi telah dan terus berkembang keseluruh dunia.
Pada dasarnya seni bela diri terbagi menjadi tiga jenis seni bela diri utama,yaitu seni bela diri dengan senjata tajam,seni bela diri dengan jenis senjata tidak tajam atau tumpul,seperti kayu dll,dan seni bela diri tangan kosong. Yang ketiganya pun masih terbagi lagi menjadi beberapa jenis dan alirannya. Di antara jenis-jenis seni bela diri yang ada adalah sebagai berikut:
1. Aikido
2. Capoeira
3. Gulat
4. Hapkido
5. Jiu Jitsu
6. Jogo do pau
7. Judo
8. Kalaripayat
9. Karate
10. Kempo
11. Kendo
12. Kung fu
13. Silambam
14. Silat
15. Taekwondo
16. Taido
17. Tinju
18. Tomoi
19. Wing Tsun
20. Wun-hup-kuen-do
21. Wushu
Seni bela diri dari Asia :
* Borneo
o Silat
* Burma
o Bando
* China semua seni bela diri Cina dikenal sebagai Kung Fu, Wushu, Kuoshu, Ch'uan Fa atau Kuntao
o Aliran tenaga dalam: Nei chia
+ Hsing Yi (Hsing-i Ch'uan, Xingyiquan)
+ Pakua Chuan (Pa Kua Chang, Baguazhang)
+ Tai Chi Chuan (T'ai Chi Ch'uan, Taijiquan)
o Shaolin
+ Black Crane Kung Fu
+ Black Tiger Kung Fu
+ Chin Na
+ Choy Lay Fut
+ Crane Kung Fu
+ Dog Kung Fu
+ Dragon Kung Fu
+ Eagle Kung Fu
+ Five Ancestors Kung Fu
+ Go-ti Boxing
+ Hung Gar
+ Leopard Kung Fu
+ Monkey Kung Fu
+ My Jong Law Horn
+ Northern Praying Mantis
+ Pak Mei (White Eyebrow)
+ Pheonix Kung Fu
+ Rat Kung Fu (Choy Gar)
+ Shuai Chiao (Shuai Jiao)
+ Snake Kung Fu
+ Southern Praying Mantis
+ San Da
+ San Shou
+ Tiger Kung Fu
+ Wing Chun
+ Wing Tsun
+ White Crane
* India
o But Marma Atti
o Gatka
o Kalaripayatu
o Kalari Payit
o mallak-rida
o malla-yuddha
o niyuddha-kride
o Silambam Nillaikalakki
o Vajra Mushti
* Indonesia
o Kuntao
o Silat
o Tarung Derajat
* Jepang
o Aikido
o Aiki Jutsu (lihat Daito Ryu)
o Bojutsu
o Iaido/Iaijutsu
o Jujutsu (Jiu Jitsu, Ju Jitsu)
o Jojutsu
o Judo
o Karate
o Kenpo
o Kendo
o Kenjutsu
o Kobudo
o Kyudo
o Naginata-do
o Ninjutsu
o Ninpo
o Shintaido
o Shorin-ryu
o Shorinji kempo
o Sumo
o Taijutsu
o Taido
o Tanto Jutsu
o Tegumi
o Yamanni-ryu
* Korea
o Gjogsul
o Hapkido
o Hup Kwon Do
o Hwa Rang Do
o Kuk Sool Won
o Kumdo
o Kwon Pup
o Soo Bahk Do
o Taekyon
o Tae Kwon Do
o Tang Shou Dao
o Tang Soo Do
o Yudo
o Yusul
* Malaysia
o Silat
* Mongolia
o Mongolian wrestling
* FIlipina
o Filipino Martial Arts (FMA)
o Arnis
o Balintawak
o Buno
o Cadena de Mano
o Combat Judo
o Doble Olisi
o Dumog
o Eskrido
o Eskrima
o Eskrima De Campo
o Estoca
o Estocado
o Filipino Kuntao
o Gokusa
o Kadena de Mano
o Kali
o Kombatan
o Kuntao
o Kuntaw
o Kuntaw Lima-Lima
o LAMECO Escrima
o Modern Arnis
o Panandata
o Pananjakman
o Panantukan
o Pangamot
o Pangamut
o Pekiti Tirsia Kali
o Sagasa
o Sayas-Lastra
o Sikaran
o Suntukan
o Tat Kun Tao
* Thailand
o Krabi Krabong
o Lerdrit
o Muay Boran (Thai boxing kuno)
o Muay Thai (Thai boxing)
* Vietnam
o Cuong Nhu
o Quan Khi Dao
o Viet Vo Dao
o Vo Vi Nam
Seni bela diri Eropa
* Eropa keseluruhan:
o Boxing
o ESDO
o Fencing
o Glima
o Historical fencing
o Jogo do Pau
o Leonese fighting
o Pankration
o Schwingen
o Wrestling
* Inggris
o Cornish Wrestling
o Cumberland wrestling
o Llap-goch
o Lutte Breton
o Purring
o Westmoreland wrestling
* France
o Boxe Francaise
o Chausson
o Chausson Marseilles
o Lutte Parisienne
o Savate
o Savate-Danse du Rue
* Jerman
o Anti Terror Kampf
o Gojutedo
o Individual Fighting Concepts Mallepree
o Kenjukate
o MilNaKaDo
o Stockfechten
* Irelandia
o Bata
o Collar and Elbow
* Israel
o Haganah system
o Krav Maga
o Krav Maga Maor
o Wu Wei Kung Fu
* Italia
o Caestus
o Graeco-Roman wrestling
o Scherma di daga
* Belanda
o Amsterdams Vechten
* Russia
o Agni Kempo
o Armeiskii rukopashnyi boi
o Boevoi Gopak
o Buza
o Cambo
o Combo
o Draka
o Kolo
o Kulachnoi Boya
o ROSS
o Rukopaschnij Boj
o Russky Stil
o Russian Boxing
o Sambo
o Samoz
o Skobar
o Slada
o Slawjano-Goritzkaja Borba
o Spas
o Systema
o Systema Kadochnikowa
o UNIBOS
o Velesova Borba
o Vyhlyst
o Wjun
* Scotlandia
o Greenoch
* Spanyol
o Zipota
* Uzbekistan
o Kurash
Seni bela diri Timur Tengah
* Iran
o Koshti
Seni bela diri Afrika
* Angola
o Capoeira d'Angola
* Mesir
o Egyptian stick fencing
* Guinee
o Peul
* Kenya
o Massaï
* Senegal
o Dioula
* Sudan
o Nuba fighting
* Seni bela diri Afrika yang lain
o Canarian fighting
o Zulu stick fighting
o Kalindi Lyi
Seni bela diri Amerika Selatan
* Brazil
o Brazilian Jiu Jitsu
o Capoeira
o Luta Livre
* Guam
o San Jitsu
Seni bela diri Amerika
* Amerika Serikat
o All Style Karate
o American Combat Judo
o American Combat Sambo
o American Kempo Karate
o American Kenpo/Ed Parker
o Pacific Archipelago Combatives
o Choi Kwang-Do
o Chu Fen Do
o Combat Submission Wrestling
o Dog Brothers Martial Arts
o Dos Manos System
o Full Contact Karate
o Jailhouse Rock
o Jeet Kune Do
o Jeet Kune Do Concepts
o Kickboxing
o Kajukenbo
o Marine Corps LINE Combat System
o Native American fighting styles
o Natural Spirit
o Progressive Fighting System
o SCARS
o Shootfighting
o Taebo
o World War Two Combatives
(Sumber:http://www.wikipedia.org dengan sedikit perubahan)
Kung fu adalah ilmu bela diri dari Tiongkok. Akan tetapi, arti kata kung fu yang sebenarnya memiliki makna luas, yakni sesuatu yang didapat dalam waktu yang lama dan dengan ketekunan yang sungguh-sungguh. Sehingga seorang ahli memasak yang hebat pun dapat dikatakan memiliki kung-fu yang tinggi.
Selain kata kung fu, istilah wushu dan kun dao juga sering dipakai untuk menyebut ilmu bela diri dari Tiongkok. Sedangkan ilmu Kungfu yang sudah menyebar ke Asia Tenggara (terutama Indonesia) di masa lalu disebut Kuntao, menurut Donn Draeger dalam buku beliau yang berjudul Weapons and Fighting Arts of Indonesia. Namun di masa kini, istilah Kuntao tersebut sudah sangat jarang dipergunakan.
Perkembangan
Seperti ilmu bela diri lain pada umumnya, bela diri kung fu berkembang dari kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Baik untuk membela diri dari serangan binatang buas, berburu untuk makan, maupun untuk berperang. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang obat-obatan dan tubuh manusia di Tiongkok – serta perang saudara yang berkepanjangan dan sering, seni bela diri kung fu pun berkembang pesat dan menyebar luas, sehingga membawa banyak kontribusi bagi berbagai macam bela diri di Asia.
Salah satu ilmu bela diri kung fu yang terkenal adalah dari Kuil Shaolin.
Seiring dengan kemajuan dan makin terbukanya negara Tiongkok, berbagai ilmu bela diri kung fu digabung dan distandarkan menjadi suatu bentuk olahraga yang dapat dipertandingkan, yakni wushu.
-----------cerita HIKMAH Kungfu Sang Penghafal Al-Quran, Oleh Anung Umar------------
(Bagaimana perasaan anda tatkala menyaksikan ada seorang yang memperagakan keterampilan bela diri dengan sangat gesit dan lincah? Terhibur dan kagum bukan? Tapi bagaimana seandainya orang itu memperagakannya tidak untuk menghibur akan tetapi justru “mengancam” dan “meneror“ anda dan itu di tempat yang sunyi di tengah malam dan tidak ada seorang pun di situ kecuali anda dan dia saja? Bagaimana perasaan anda? Tentu lain lagi jawabannya. Tapi Itulah yang saya alami bersama teman saya atau lebih tepatnya temannya teman saya (terserah anda, mau sebut itu teman, atau teman-teman atau teman-temanan), sebut saja namanya Kholid (nama samaran).
Kejadian itu terjadi sekitar enam tahun lalu, tatkala saya bersamanya menginap di suatu masjid di pinggiran kota DJ. Baru saja saya murajaah (mengulang) hafalan Al-Quran, tak terasa ternyata malam telah larut, seingat saya, sudah lewat jam setengah satu. Suasana masjid ketika itu telah sepi, tidak ada di situ kecuali tiga orang: saya, Kholid, dan teman saya lainnya, yaitu Imbar (nama samaran). Saya lihat Imbar telah tidur dengan penuh “khusyuk” di lantai dasar, sedangkan Kholid ada di lantai dua tidak terdengar pula suaranya. Mungkin ia telah tidur, itu yang saya kira. Melihat suasana yang sepi dan tenang seperti itu, otomatis saya pun terkena “virus” kantuk. Saya pun bergegas naik ke lantai dua untuk tidur.
Saya lihat Kholid telah terlelap di atas tempat tidurnya yang beralaskan papan. Karena kebetulan papan tempat tidur saya agak berdempetan dengan tempat tidurnya, saya pun menggesernya agar ada kerenggangan. Ketika saya sedang menggesernya dan ketika itu tangan Kholid di atasnya, tiba-tiba Kholid yang ketika itu sudah terlelap, seperti tersentak, ia membuka matanya, lalu memandang tangannya dengan pandangan yang tajam, seperti ada sesuatu di tangannya, saya heran ada apa dengannya. Tidak selang lama, ia bangkit, bergerak dengan cepat lalu memperagakan suatu jurus, jurus yang mengingatkan saya kembali ke film-film Mandarin! Ya, saya masih ingat dan masih segar di benak saya, itu yang pernah diperagakan Jackie Chan di dalam film-fimnya! Itu Jurus dewa Mabuk! Tapi sayangnya moment itu bukan untuk bernostalgia atau berdecak kagum, karena posisi saya ketika itu bukan sedang terhibur justru sedang “terancam”. Kholid seperti mengarahkan jurusnya ke arah saya.
Saya panik luar biasa. Apa saya akan menjadi “korban”nya? Apakah saya bersalah karena telah mengganggunya dari tidur? Saya berpikir, ini tidak wajar. Tidak mungkin orang yang normal ketika tidur tiba-tiba bangun dan “mengancam” dengan memperagakan jurus dengan gesit dan lincah. Melihat indikasi itu, seketika muncul kesimpulan di kepala saya, ini kesurupan! Kepanikan saya memuncak, karena ia makin mendekat ke saya. Saya harus mengambil jalan keluar segera. Saya teringat Imbar teman saya yang tidur di lantai bawah, saya ingin berteriak meminta tolong kepadanya, tapi entah kenapa, karena saking paniknya, suara saya seperti tercekat di tenggorokan, tak keluar sepatah kata pun dari mulut. Hanya ada dua pilihan bagi saya untuk menyelamatkan diri ketika itu, mengambil jurus langkah seribu atau maju “bertempur” dengannya.
Kalau untuk opsi pertama, repot pula, karena posisi saya terpojok, kiri kanan saya tembok, belakang saya pagar pembatas, apa mungkin saya loncat dari lantai dua ke lantai dasar? Saya masih belum punya nyali untuk itu. Kalau mau lewat pintu yang ada di hadapan saya, otomatis harus berhadapan dengan Kholid dulu. Tak ada pilihan kecuali perang! Tapi sayangnya nyali saya sudah dikalahkan rasa gentar saya sendiri. Kalau berhadapan dengan anak SD atau SMP sih, saya siap, tapi kalau menghadapi Kholid yang berperawakan kekar, tinggi, dan juga sangat “ganas” dengan jurusnya itu, rasanya saya harus berpikir panjang lagi.
Ketika kepanikan dan ketakutan itu telah memuncak, muncullah fitrah saya sebagai manusia yang membutuhkan Khaliknya tatkala terdesak, saya pun langsung berdzikir kepada Allah. Saya sudah tidak ingat apa yang saya ucapkan ketika itu, apakah istighfar, taawudz atau yang lainnya, yang jelas, subhanallah, hasilnya tidak mengecewakan. Walaupun tidak seketika, Kholid menghentikan “teror”nya. Ia terengah-engah seraya mengucapkan istighfar. Saya pun lega, “teror” sudah berakhir.
Tapi sayangnya “kemenangan” saya ini belum terwujud, Kholid kambuh lagi! Ia kembali “meneror” dengan gerakan Kungfu dewa Mabuknya, saya pun kembali panik. Tapi Alhamdulillah, “teror” ini ternyata tidak berlangsung lama, karena ia pun berhenti lagi dan kembali terengah-engah sembari beristighfar. Saya lega menyaksikan itu. Tatkala keadaan telah “aman” dan Kholid sudah tenang, saya pun menghampirinya. Saya “menginvestigasinya” , “Antum pernah belajar ilmu tenaga dalam, ya? “ Dia enggan menjawab. Lalu saya mengajukan beberapa pertanyaaan lagi tapi dia tetap tidak mau menjawab, sepertinya ia enggan terbuka dalam hal ini. Akhirnya saya biarkan saja ia menenangkan dirinya, sedangkan saya lebih memilih bersegera tidur,mengingat malam yang makin larut dan juga kondisi badan yang sudah lelah dan shock karena kejadian tadi.
Sebenarnya siapa sih Kholid itu dan apa yang menyebabkannya seperti itu? Harap jangan kaget kalau ia ini ternyata seorang hafizh (telah hafal Al-Quran 30 juz)! Lho kok bisa seorang hafizh jadi seperti itu? Nah, pertanyaan itu pula yang berputar-putar di kepala saya. Masak iya orang hafal 30 juz kesurupan jin?
Setelah kejadian itu saya tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang itu. Akan tetapi karena rasa penasaran yang sudah memuncak dan juga pertimbangan kemaslahatan yang akan didapat, saya pun ceritakan kejadian malam itu ke salah seorang teman saya yang juga teman akrab Kholid ini. Saya pikir, tidak ada salahnya saya ceritakan ini kepadanya, karena ia orang terdekat dengan Kholid dan saya rasa ia berkompeten dalam hal ini, siapa tahu dengan itu bisa membantunya (Kholid)untuk sembuh atau setidaknya bisa memberi saran agar saya selamat dari “aksi-aksinya” di kemudian hari.
Setelah saya jelaskan kejadian itu, rupanya teman saya ini tidak terlalu terkejut. Ia bahkan mengabarkan bahwa Kholid ini pun dulu pernah juga kesurupan, bahkan aksinya ketika itu lebih dahsyat lagi: ia bisa loncat ke atas genteng dan atap mobil bak katak meloncat ke sana kemari! Kesurupannya itu sering kambuh. Pernah juga ia pulang dari suatu daerah menuju kampungnya menggunakan bis. Akan tetapi, setelah beberapa lama ditunggu keluarganya, ia tidak juga sampai ke rumah. Setelah beberapa hari atau minggu ia rupanya diketemukan seorang “ikhwan” yang kebetulan mengenalnya dalam keadaan menggembel di suatu kota yang berjarak lebih dari 300 km dari rumahnya! Astaghfirullah..Singkat cerita, Kholid rupanya kesurupan dalam perjalanan di bis, makanya ia tak sadar ketika sampai di kota lain yang bukan jadi tujuannya. Nadzubillah min dzalik..
Saya bertanya kepada teman saya ini apa penyebab kesurupannya yang pertama kali . Ia tidak bisa memastikan penyebabnya. Akan tetapi ada dua kejadian penting sebelum itu, dan itu kemungkinan besar sebagai penyebabnya. Yang pertama: dia baru saja mendapatkan masalah pribadi yang sangat memukulnya. Kedua: ia baru mengalami kecelakaaan ketika sedang berkendaraan motor bersama temannya. Temannya meninggal, sedangkan ia selamat. Kejadian itu sangat memukulnya pula, sampai-sampai setelah kejadian itu teman saya ini pernah mendapati di kamarnya (Kholid) obat-obatan yang termasuk kategori tidak dijual bebas[baca:terlarang].
Begitu mengkhawatirkan. Bahkan sampai sekarang pun (waktu ia berbicara sekitar enam tahun lalu), keluarganya masih merasa cemas kalau ia berada jauh dari rumah dan kampungnya. Selain itu, dampak negatif dari kesurupan pun terasa, di antaranya yaitu, hafalan Al-Qurannya “hilang” hingga hampir separuhnya! Dan yang perlu diwaspadai, kata teman saya ini, jin yang ada di tubuhnya ini bisa saja bereaksi kapanpun tanpa diduga. Astaghfirullah..
Dari kejadian-kejadian di atas saya petik beberapa pelajaran, di antaranya:
1. Seorang hafizh adalah manusia juga, ia bisa stres, kesurupan bahkan gila BILA IA LALAI dari mengingat Allah, MENGABAIKAN perintah-Nya dan BERMAKSIAT kepada-Nya.
Dan itu bukan mustahil. Bukankah mungkin seseorang menghafalkan Al-Quran tetapi tidak ikhlas, ingin ketenaran dan cinta pujian? karena siapa sih yang tahu isi hati seseorang kecuali Allah? Dan bukankah mungkin pula seseorang menghafal dan terus menghafal Al-Quran akan tetapi ia tidak memahaminya dan tidak juga mengamalkan kandungannya? Bacaaannya tidak melewati kerongkongannya [baca: tidak masuk ke hati]? Akan tetapi jangan dipahami dari tulisan ini, berarti saya menganjurkan orang untuk tidak menghafal Al-Quran atau bermalas-malasan menghafalnya. Tidak, bukan itu maksud saya. Justru saya menganjurkan siapapun untuk bersemangat dalam membaca dan menghafal Al-Quran, dan itu kebaikan yang sangat besar, insya Allah. Tapi tolong jangan berhenti sampai di situ saja, pahami pula dan tadaburilah serta amalkanlah kandungannya. “(Al-Quran) Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadaburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. " (Shaad:29)
2. Tak ada korelasi antara hidayah dan kecerdasan.
Orang cerdas belum tentu orang yang paling berhak mendapatkan hidayah dari Allah. Seorang hafizh tidak dipungkiri lagi ia pasti memilki kecerdasan, akan tetapi apakah itu jadi jaminan ia akan selamat dari gangguan syaithan dan mendapat hidayah kalau ia LALAI dari mengingat-Nya dan menjalankan perintah-Nya? Seandainya hidayah itu di tangan orang-orang cerdas, tentu Albert Einstein lebih berhak masuk islam di bandingkan kita yang memilki IQ jauh di bawahnya. Dan kalau memang keselamatan dan hidayah itu diukur dengan kecerdasan, tentu Washil bin ‘Atha (pendiri sekte Mu’tazilah) tak akan menyimpang dari al-haq, karena ia termasuk murid Hasan Al-Bashri ( seorang ulama Tabiin) yang cerdas dan populer. Karena itu, yang merasa “cerdas” dan “berilmu” jangan membusungkan dadanya, hendaklah ia tawadhu, karena kecerdasan dan ilmu yang ia dapatkan selama ini bukan karena kecemerlangan dan kehebatannya, itu semata-mata karunia Allah yang diberikan kepadanya agar ia bersyukur dan mengamalkannya.
3. Kita harus waspada dari makar-makar syaithan.
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh, sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. “(Fathir:6)
Syaithan senantiasa memasang permusuhan terhadap seluruh mumin dan dia tidak pandang bulu dalam hal itu: apakah orang awam, ahli ibadah, ustadz, hafizh dan yang lainnya, seluruhnya adalah musuh syaithan. Karena itu waspadalah, bekalilah diri-diri kita dengan ilmu syari, bacalah Al-Quran dan Hadits, tadaburilah isinya dan amalkanlah kandungannya semampu kita. Mudah-mudahan dengan itu Allah melindungi kita semua dari makar syaithan, iblis beserta bala tentaranya serta memberikan curahan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dengan itu terang dan terbimbinglah setiap langkah kita di dunia ini hingga saat meninggalkannya di akhir hayat nanti. Amin ya Rabbal’alamin..
Itu sedikit hikmah dan pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian di atas, bagi teman-teman yang bisa menambahkan hikmah dan pelajaran lain, silahkan tambah dan sebarkan, mudah-mudahan Allah memberkahi kita semua. Amin.
Jakarta, 7 Syawwal 1431/ 16 September 2010)
SEBELUMNYA---------------------
Kung Fu Master vs Hadits Master
By Abu Aisyah, on March 2nd, 2010
Artikel berikut ini hanyalah hiburan. Hanya ingin menilai sesuatu dari sisi yang berbeda. Kalau dulu saya pernah mengatakan bahwa programmer itu agak-agak mirip dengan programmer, maka kali ini saya menulis bahwa ahli kungfu itu tidak sama denga ahli hadits? Lho koq bisa? Begini ceritanya.
Alkisah Rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam adalah saka guru yang segala tindak tanduk beliau, segala kehidupan beliau adalah tuntunan yang patut dicontoh. Dan kemudian para shahabat selalu mengingat apapun yang diberikan oleh beliau shallallahu’alaihi wa salam. Para shahabat ada yang mencatat, tapi kebanyakan dihafal. Setelah rasululloh shallallahu’alaihi wa salam wafat, kemudian warisan-warisan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tersebut diajarkan dari para shahabat kepada para tabi’in. Dan dari para tabi’in setelahnya diajarkan kepada tabi’ut tabi’in.
Kemudian sejarahnya berlanjut kepada para ahli hadits. Mereka menguasai ilmu rijal, yaitu ilmu sanad, yang mana meneliti para perawi hadits. Dan dari sinilah lahir para pahlawan Islam. Mereka membukukan banyak buku hadits, jutaan hadits pun dikumpulkan dan dirangkum oleh para imam ahli hadits. Dan tidaklah sedikit pun salah satu diantara mereka menyembunyikan ilmu, sebab menyembunyikan ilmu itu dilarang oleh rasululloh Shallallahu’alaihi wa salam. Dan para hadits master ini adalah orang yang pertama kalinya semangat dalam masalah mengamalkan sebuah hadits.
Bagaimana dengan ahli kungfu? Wah, jauh sangat dengan mereka. Contohnya adalah pendekar rajawali. Ia hanya akan mengajarkan kungfu yang tidak sama dengan dirinya. Sebab ini buat jaga-jaga kalau muridnya membangkang. Setiap pendekar pasti punya jurus rahasia yang memang tidak diajarkan kepada siapapun, termasuk muridnya. Hanya guru yang putus asa dan bodoh saja yang mengajarkan jurus rahasia tersebut.
Namun setiap generasi ternyata berbeda kwalitas kemampuan ilmunya. Dan memang beginilah faktanya. Apabila generasi Islam itu makin dekat dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam, maka makin tinggilah ilmu orang tersebut. Walaupun memang orang-orang muta-akhirin juga ilmunya tak bisa diremehkan. Tapi memang diakui sendiri oleh para ulama, seperti Syaikh Musa Hafizhahulloh, Syaikh Ali Hafizhahulloh, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali Hafizhahulloh, Syaikh Abdul Muhsin rahimahulloh bahwasannya mereka tak ada seujung kukunya para pendahulu mereka.
Salah seorang ustadz, pernah berkata kepada saya, bahwasannya mengenal para ulama itu seperti hidup di negeri dongeng. Allah menciptakan para ulama itu adalah karena rahmat-Nya. Semakin kita kenal seorang ulama, tentang kehidupannya, tentang ilmunya, maka kita akan serasa kecil. Bahkan semakin kita belajar dengan membaca buku-buku mereka, mengikuti kajian yang membahas buku-buku mereka, maka kita akan merasa semakin tidak tahu dalam masalah-masalah yang mereka bahas. Saya sendiri ketika membaca buku Miftahu Daar as-sa’adah, saya seperti membaca bukunya Harun Yahya tentang kehidupan makhluk-makhluk. Namun tentunya tak bisa dibandingkan dengan karangan Harun Yahya yang mengajak manusia meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan menentang teori revolusi Darwin. Pertanyaannya adalah, orang seperti Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh seorang ahli hadits, ahli tafsir, seorang tabib, seorang ahli sastra, tapi beliau juga faham masalah kimia, sains dan masalah ekologi, juga masalah biologi. Paling tidak ilmu yang beliau miliki sama dengan 10 sampai 15 orang doktor. Saya tidak membual, tapi memang itu kenyataannya.
Sejak kecil beliau sudah hafal Al Qur’an dan sudah belajar hadits semenjak masih muda. Menghafal ribuan hadits, menulis ratusan buku, faham ilmu pengobatan, kimia, biologi dan sebagainya. Mustahil satu orang tersebut bisa mendalami banyak ilmu kalau Allah tidak memberikan bashiroh kepada orang tersebut. Coba kita lihat diri kita sekarang. Belajar satu ilmu saja susahnya bukan main. Sebagai contoh belajar masalah komputer. Anda butuh 4 tahun untuk bisa lulus dari universitas. Belajar tafsir Al Qur’an, apakah anda sudah hafal Al Qur’an sekarang? Lalu berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk menghafal?
Contoh yang lain Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh. Buku beliau yang paling dikenal adalah Musnad Ahmad. Yang kalau dikumpulkan tebalnya seperti enam kitab hadits yang dikenal manusia, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Imam Ahmad rahimahulloh dalam sebuah riwayat dikenal orang yang sangat mencintai hadits, beliau pernah 3 hari 3 malam menulis kitab, istirahat hanya ketika sholat saja. Sampai-sampai kemudian beliau pingsan dan ditolong oleh anaknya. Ketika ditanya, “Wahai ayahku, kenapa engkau tidak istirahat?”. Beliau menjawab, “Kaki ini istirahat setelah menyentuh pintu surga”.
Dan beliau pun dikenal sebagai Imam Ahlussunnah karena kegigihan beliau memperjuangkan sunnah. Nama beliau harum, karena beliau mengharumkan agama Allah, membela Allah dan Rasul-Nya.
Ibnu Katsir rahimahulloh juga orang yang luar biasa. Ulama yang satu ini kita kenal dengan tafsir besarnya yaitu Tafsir Al Qur’an Al Azhim Ibnu Katsir yang sekarang sudah banyak diterjemahkan oleh banyak percetakan. Pernah diceritakan kepada saya dalam sebuah kajian beliau juga dikenal dengan orang yang luar biasa ilmunya, beliau sanggup menulis berjilid-jilid buku ketika menjadi seorang musafir. Ketika siang hari beliau berteduh dengan tubuh ontanya sambil menulis. Dan satu hal yang luar biasa adalah salah satu bukunya yang menuliskan hadits dari setiap para shahabat dimulai dengan huruf alif sampai ya’. Dan itupun ditampilkan seluruh hadits yang “harokatnya” tidak sama. Seperti contoh Innamal a’malu bin niyat dengan Innamal a’malu bin niyaat.
Makanya, sungguh jauh seorang kung fu master dengan hadits master. Seorang hadits master tidak pernah takut menghadapi apapun. Bahkan mereka sama sekali tak takut ketika harus berhadapan dengan sesuatu yang bisa saja merenggut nyawa mereka. Sebab memang hidup mereka bukan untuk membela diri, tapi membela agama ini. Dan tentu saja Allah mengharumkan nama mereka dan mengganti seluruh kehidupan mereka dengan kehidupan yang lebih baik di hari akhirnya.
Kalau kungfu master? Hidupnya hanya untuk membela diri. Mempertahankan diri, mungkin juga membela orang lain ketika ada yang bertindak semena-mena. Ilmunya pun terbatas, dan merupakan ilmu yang tidak berguna dihadapan Allah. Dan ilmunya pun akan terputus sanadnya kalau sang guru tidak menurunkan ilmu tertentu kepada muridnya agar muridnya tidak durhaka kepadanya.
Wallahua’lam bishawab.))
Dari Abu Dzar r.a, bahwasanya Nabi saw keluar dari rumah beliau ketika musim dingin, waktu itu daun-daun berguguran. Beliau mengambil ranting dari sebatang pohon, sehingga daun-daun di ranting itupun banyak berguguran. Kemudian beliau bersabda, "Wahai Abu Dzar!" Saya menyahut, 'Labbaik, ya Rasulallah.' Lalu beliau berkata, 'Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya." (HR. Ahmad).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar