
(sebuah cerita, sebuah maya pada)
• Demi PACAR Anak terlantar
GARA-gara tak sabar ingin bertemu kekasih yang dikenal melalui dunia maya, seorang Ibu tega menelantarkan 8 anaknya(Kota Melbourn)
• CERAI kok di Facebook!
Istri mana yang tak geram, jika sang suami menceraikannya secara tiba-tiba lewat Facebook!
Ini yang dialami Emma Brady, perempuan asal Blackburn, Inggris. Ia terkejut dan langsung naik pitam ketika diceraikan suaminya, Neil Brady, melalu situs pertemanan, Facebook.
Pantas, karena Emma tak pernah menyangka. Ia merasa rumah tangga yang telah ia rajut selam 6 tahun baik-baik saja dan bersikap normal. Nah, tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan, terlebih hal ini sampai di baca oleh public. Mungkin, rasanya seperti menelan pil pahit!
Konon, seperti di kutip nydailynews.com ini merupakan ungkapan pertama yang dilontarkan oleh seseorang melalui Facebook.
“Bagi saya, perceraian adalah hal yang mengerikan, apalagi sampai disebarkan di Facebook. Ulahnya itu telah menghina saya.” Geram wanita berusia 39 tahun ini.
Namun, ternyata saat Emma menanyakan hal itu kepada Neil, pria yang bkerja dikonsultan IT itu hanya menjawab dengan enteng bahwa kalimat cerai itu hanya iseng. Halah! (Wanita Indonesia, Dunia Sepekan. 23Feb-1Maret 2009)
Budaya internet begitu melestarikan budaya yang “need afiliasinya tinggi”. Manusia-manusia yang berjiwa sosial tinggi amat butuh pertemanan dan dialog dalam bertukar pikiran berupa ide-ide. Manusia yang pintar akan memilih mencari informasi lewat kehidupan yang bisa diraba, dirasa dan mampu di dengar.
Internet pada awalnya mengait informasi yang mampu mengembangkan pola pikir bagi para penggunanya. Namun, perkembangan dalam waktu pasti berlanjut, makin maju, makin hebat dan luas. Internet sekarang tidak lagi berdaya guna sebagai informasi pengetahuan saja. Tapi, kitapun bisa berdagang dengan negosiasi yang kita kehendaki, bercengkrama lewat web cam, menceritakan kondisi kita dalam hitungan detik, mencari orang hilang atau menghilangkan orang lain yang saat ini terjadi lewat media facebook, malah ta’aruf yakni perkenalan yang diajarkan dalam Islam untuk menuju jenjang pernikahan bagi hubungan antar lawan jenis, jelasnya Islam melarang hubungan yang terus bergema di kaum antar lawan jenis, pacaran dan ini hukumnya haram! Sudah berkecambah didunia internet dan lebih hebat lagi internet pun jadi mampu untuk melangsungkan akad nikah. Dalam pola pikir penulis, hal ini kurang ihsan, kurang baik dan tidak.lurus.
Kehidupan sosial yang baik dan dianjurkan sehingga menghasilkan dialog emosional yang bisa diraba, dirasa dan didengar, harus terjadinya kontak mata yang membuat kita yakin dia, orang yang kita kenal benar-benar ada, gesture yang begitu jelas sehingga kita mengenal orang lain tidak setengah-setengah, lebih menyeluruh dan menguatkan dalam hubungan dengan orang lain, itulah sosialisasi tepat. Bukan, menyalahkan internet ( who’s fault?; siapa yang salah? ) ini hanya melihat kenyataan, bahwa itulah hebatnya manusia. Memang, belum sepenuhnya kehebatan yang diberikan Allah SWT, karena kita hanya di beri 1% dari 99% kehebatan. 1% kehebatan, kecerdasan, kemewahan. Begitupun, kemiskinan, penderitaan, luka dan sakit… Cuma 1%. Selebihnya 99% kemewahan dan penderitaan berada di akhirat. Jadi, jangan mendramatisir keadaan kita di dunia ini, jangan berlebihan memamerkan kesenangan dan jangan terlalu cengeng menghadapi penderitaan. Lihat lebih dekat bahwa ada 99% yang kita punyai di akherat dan di dunia ini merupakan ajang bagaimana kita bisa mendapatkan itu semua, baikkah atau burukkah? Itu pilihan kita, semua tergantung kita sendiri tidak ada orang lain mencampuri pilihan kita.
Suatu kondisi yang miris dalam dunia internet adalah betapa mudahnya hubungan yang khusus bil khusus kepada orang yang belum kita kenal. Begitu yakin haiqul yakin kepada orang yang belum menyeluruh kepastian watak, karakter dan kepribadiannya. Di dunia internet untuk mengenal seseorang yang baik atau tidak baik itu lebih menonjol pada topengnya saja, wajah yang terpampang dalam foto, baik profil maupun album. Serta tulisan-tulisan yang bisa kita lihat dari hasil karyanya. Kita tahu, mencong teko akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, kalau kopi yang berada didalam teko maka yang keluar adalah kopi, kalau air putih yang keluarpun air putih dan kalau air comberan( aiah bondai: Minang, red.) yang keluarpun air comberan. Itulah analogi yang bisa kita lihat kualitas seseorang dari cara dia berbicara menumpahkan pikirannya, semakin bagus bicara yang dikeluarkan, baguslah orangnya, jelek dan kotor pembicaraan, Anda bisa menilai bagaimana orang tersebut! ( Pituah dari seorang Aa Gym, da’i kondang dari Indonesia yang sebagian masyarakat dah mengabaikannya karena beliau berpoligami.)
Masalah hubungan khusus bil khusus ini merupakan hubungan yang terjadi antar lawan jenis. Kejadian yang tidak menyenangkan terjadi disini. Seorang laki-laki melamar seorang wanita dan ditanggapi dengan responsive sekali oleh wanita tersebut, karena merasa yakin dia laki-laki yang baik. Berbulan-bulan bercengkrama memberi tahu perihal pribadi masing-masing, lambat laun wanita ini mengetahui kalau laki-laki ini dulu punya pacar dan pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas meskipun belum berzina besar, ciuman adalah hal biasa bagi laki-laki ini. Si-wanita yang berusaha memaklumi karena laki-laki ini tinggal di pusat kota, berusaha memahami sebuah styles di kota. Lambat laun, berlalunya waktu wanita inipun mendengarkan laki-laki tsb melakukan hal yang tidak baik lewat kata-kata via telepon, ternyata laki-laki ini hypersex. Menangislah wanita yang berusia baru 19 tahun itu dan dia menyesal. Harap maklum yang namanya laki-laki pasti punya segudang ide menaklukan wanita dengan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi, laki-laki ini memohon agar si-wanita tetap bersedia menjadikan dia suaminya kelak. Wanita yang kalau terlalu menuruti cinta, dia pasti mau menerima kembali dan ternyata benar, dia menuruti cinta. Keluarga sudah mengetahui perihal hubungan via internet yang ada perencanaan menikah itu, laki-laki yang bertinggal jauh di pusat kota itu bersedia datang untuk melamar secara langsung atau lebih tepatnya saling kenal selayaknya ta’aruf yang normal.
Hubungan bil khusus ini menaruh luka bagi wanita, karena pernikahan tidak terjadi. Si-wanita sudah terpengaruh pola pikir hypersex yang ditularkan laki-laki tsb, entah bagaimana sampai begitu. Yang jelas wanita ini tidak terima, dia merasa terhina dan ternodai karena perilaku hypersex tsb, yaa… laki-laki sudah melupakannya, mungkin merasa menang. Namanya juga laki-laki Seburuk apapun perilakunya, pasti dia menginginkan wanita yang baik dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau maksiat, laki-laki menginginkan istri yang baik. Hanya Sepenggal cerita miris. Bagi pengguna internet belajarlah untuk menjadi manusia yang bersosialisasi yang bersifat pasti-pasti saja, mau ta’aruf dengan lawan jenis ambil yang mudah saja dalam arti kita memang sudah lebih dulu mengenalnya, mungkin dulu pernah satu sekolah, se-tetangga, pernah jumpa di seminar atau apa saja, yang penting secara gesture kita pernah melihat sebelumnya. Jika kita belum pernah kenal sama sekali, dengan jarak jauh dan kenal lewat via telepon, internet! Jangan ambil resiko untuk berhubungan lebih dalam sehingga berniat menikah, aduuh… pikir-pikirlah dulu, perdalam ilmu karena menikah tidak hanya sekedar legalisasi seks semata, banyak hal yang dilakukan dalam rumah tangga. Belajarlah pandai memilih dan berpikir secara hati dan rasional, jangan hanya perturutkan nafsu yang lebih mengedepankan kesenangan belaka.
Tragedi hilangnya beberapa anak, maupun remaja saat ini lewat media facebook. Bisa dipastikan karena hubungan jarak jauh yang tidak mengenal secara emosional yang menyeluruh, menjanjikan sesuatu yang pasti membuat seseorang rela pergi jauh, hanya untuk berjumpa dengan seseorang yang menurut kita baik dan bisa diandalkan. Tapi, ya maklum saja jika kita begitu percaya dengan orang lain, budaya Indonesia yang ramah dan mudah percaya dengan orang lain sudah mendarah daging pada kita. Coba lihat budaya luar, begitu dasyatnya perkembangan mereka tidak ada yang menyebabkan mereka hilang. Kalaupun hilang, pasti yang hilang adalah budaya malunya saja. Manusia Indonesia saat ini, sebenarnya masih “terkaget-kaget” dengan era globalisasi yang begitu mudahnya semua budaya luar masuk. Anak Indonesia harus belajar lagi untuk pintar, lebih utama adalah pintar dari segi pertahanan diri, moral dan agama.
Untuk lebih afdhal, penulis memberikan firman Alloh SWT dalam QS. al-Hujarat ayat ke 13:
•• • •
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Hematnya, berkenalan itu sah-sah saja baik laki-laki dan perempuan, beda bangsa dan budayapun tak jadi soal. Asalkan kita pintar menjaga diri dan idealisme kita, jangan terpengaruh dan mampu mengubah kepribadian kita jadi orang lain. Selama itu baik perkenalannya, ambillah kebaikan itu, jika buruk tinggalkan tapi jangan dijauhi, ambil hikmahnya hubungan itu dan belajar untuk menerima kekurangan orang lain serta kelebihan yang dimiliki, jangan pernah menghujat dan menjelek-jelekkan orang lain. Jadilah orang-orang yang bertakwa, pandailah memilih mana yang baik untuk kita dan mana yang buruk, jika hal itu bersifat samar-samar, tidak jelas, tinggalkan dan jauhi!!!
Semoga bermanfaat,
Padang, 18 Februari 2010 (10:31 AM)
al-Faqir ilallah, Novelia Yusuf asy-Syahidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar